jump to navigation

inilah yang terjadi di matahari kita 29 April 2010

Posted by irpha in Fisika update, Uncategorized.
add a comment

SOLAR 001

Sekumpulan awan besar yang terdiri dari plasma padat yang relatif dingin terlihat tertahan di dalam panasnya matahari, corona tipis. Pada saat tertentu awan ini dapat meledak, terlepas dari atmosfir matahari. Emisi dari garis spectral menunjukan chromosphere bagian atas yang memiliki temperatur 60.000 derajat K (lebih dari  100.000 derajat F).

Setiap bagian dari gambar ini menunjukan struktur medan magnet. Bagian
terpanas nampak hampir berwarna putih, sementara bagian berwarna merah gelap menunjukan bagian yang memiliki temperatur lebih dingin.
(Courtesy of SOHO/EIT consortium)

SOLAR 002

Close up detail dari structur magnetic di atas permukaan matahari, dilihat dari H-alpha wavelength pada 22 agustus 2003. (solar teleskop 1-m swedia (SST) yang dioperasikan oleh Royal Swedish Academy of Sciences, Oddbjorn Engvold, Jun Elin Wiik, Luc Rouppe vander Voort)

SOLAR 003

NASA STEREO satellite menangkap gambar pertama tabrakan antara “Badai” matahari, yang disebut coronal mass ejection (CME), dan comet pada 4 april 2007. Tabrakan ini menyebabkan terlepasnya ekor plasma comet. Comet adalah sisa dari formasi tata surya milyaran tahun lalu.

Comet biasanya berada di bagian dingin, yang jauh dari tata surya, tapi kadangkala tarikan grafitasi dari planet, comet lain atau bahkan bintang di dekat comet tersebut membawa comet ke dalam tata surya.

Sesampainya di tata surya, panas matahari dan radiasi menguapkan gas dan debu dari comet yang membentuk ekor comet. Comet biasanya memiliki 2 ekor, yang satu terbentuk dari debu dan yang satu terbentuk dari gas yang terkonduksi secara electric yang disebut plasma. (NASA/STEREO).

SOLAR 004

Gambar dari bagian matahari yang aktif diambil pada 24 juli 2002 dekat bagian timur matahari. Bagian highlight gambar adalah bentuk tiga dimensional dari photosphere jika dilihat dari sudut besar ini. Struktur pada bagian sunspot yang gelap di bagian  atas tengah gambar, menunjukan perbedaan ketinggian diatas “permukaan gelap”  dari sunspot.

Ketinggian dari struktur ini telah diestimasikan oleh Dr. Bruce Lites dari High Altitude Observatory berkisar antara 200 dan 450 km. Bagian kecil yang terpisah dari gambar berukuran sekitar 70 km.

Terdapat juga beberapa cahaya “faculae” yang terlihat dari ujung granules yang menghadap observatorium pengamatan. (Prof. Goran Scharmer/Dr. Mats G. Löfdahl/Institute for Solar Physics of the Royal Swedish Academy of Sciences)

SOLAR 005

Gerhana matahari total pada 16 februari 1980 yang difoto dari Palem, India oleh tim riset dari High Altitude Observatory of the National Center for Atmospheric Research. Foto dari corona matahari ini diambil dari kamera system yang dikembangkan oleh  Gordon A. Newkirk, Jr.

Alat khusus ini mangambil gambar corona dalam cahaya merah, 6400 A. (Rhodes College, Memphis, Tennessee / High Altitude Observatory (HAO), University Corporation for Atmospheric Research (UCAR))

SOLAR 006

Planet Venus terlihat dari TRACE satellite NASA, pada permulaan perjalanannya mengelilingi matahari pada 8 juni 2004. (NASA/TRACE)

SOLAR 007

Gambar dari sunspot dan granules pada permukaan matahari, terlihat pada H-alpha wavelength pada 4 agustus 2003 (Swedish 1-m Solar Telescope (SST) operated by the Royal Swedish Academy of Sciences, Göran Scharmer and Kai Langhans, ISP)

SOLAR 008

Solar flare (pijar matahari)  menghasilkan gelombang seismik pada matahari yang hampir mirip dengan gelombang yang dihasilkan oleh gempa bumi di bumi kita, pada 27 mei 1998. Para peneliti mengamati gempa yang diakibatkan oleh solar flare ini yang memiliki sekitar 40.000 kali energi yang dihasilkan oleh gempa bumi yang menghancurkan san fransisco tahun 1906 atau menurut kalkulasi para ahli sama dengan gempa bumi berkekuatan 11.3 SR.

Dalam jangka waktu 1 jam solar flare dapat mencapai jarak 10 kali diameter bumi sebelum lenyap di photosphere matahari. Tidak seperti riak air yang bergerak keluar pada kecepatan konstan, gelombang matahari bergerak dengan kecepatan 22.000 mil per jam sampai dengan kecepatan maksimumnya 250.000 mil per jam sebelum menghilang. (Courtesy of SOHO/EIT consortium. SOHO is a project of internationalcooperation between ESA and NASA)

SOLAR 009

Animasi dari matahari, terlihat dari Extreme ultraviolet Imaging Telescope (EIT) milik NASA pada jangka waktu 6 hari, dimulai dari 27 juni 2005. (Courtesy of SOHO/EIT consortium)

SOLAR 010

Hinode (sebelumnya dikenal dengan nama Solar-B) berhasil menangkap solar flare raksasa pada 13 desember 2006. Ini merupakan solar flare / pijar matahari terbesar yang terjadi pada periode aktivitas matahari minimum. (JAXA/NASA/PPARC)

SOLAR 011

Gambar ini menunjukan Corona untuk aktivitas matahari sedang, dengan beberapa region (merah) panas di kedua hemisphere, dikelilingi oleh (biru/hijau) plasma yang lebih dingin dari corona.

Perhatikan juga filamen putaran trans-equatorial di bagian utara dari polar-crown dan lubang corona (coronal hole) pada bagian sudut tenggara (kanan bawah) dari gambar dan bagian yang lebih kecil di atas kutub utara.

Gambar ini menunjukan corona matahari dalam false-color, komposit 3-bagian: biru, hijau dan chanel merah menunjukan wavelength / panjang gelombang 171A,195A, dan 284A, secara berturut-turut (paling sensitif pada emisi 1, 1.5, dan 2 juta derajat gas). (TRACE Project, Stanford-Lockheed Institute for Space Research, NASA)

SOLAR 012

Gambar dari sunspot / noda matahari dengan bentuk tidak beraturan dan granules pada permukaan matahari, terlihat pada 22 agustus 2003. (Swedish 1-m Solar Telescope (SST) diopersikan oleh the Royal Swedish Academy of Sciences, Oddbjorn Engvold, Jun Elin Wiik, Luc Rouppe van der Voort, Oslo)

SOLAR 013

Pada 8 November 2006, merkurius terlihat, memulai perputarannya di depan matahari. (NASA/TRACE)

SOLAR 014

Gambar TRACE 171Å-wavelength pada 11 November 2006 ini menunjukan region aktif dengan ukuran berubah-ubah pada bagian sayap timur matahari (diputar searah jarum jam 90 derajat sehingga utara adalah bagian kanan) tepat pada saat berotasi menghadap hemisphere bumi.

Perhatikan struktur berwarna hitam dari filamen pada ujung utama region, beberapa material hitam yang mengambang pada bagian kanan region, dan bagian ephemeral di bagian kanan bawah. (NASA/TRACE)

SOLAR 015

Matahari, diamati pada 22 mei 2008. Dengan matahari yang terus beraktivitas pada keadaan minimum, hanya sebagian kecil dari aktivitas saja yang terlihat pada piringan matahari. Penampilan seperti cell terbentuk oleh kumpulan cluster-cluster  kecil magnetic flux yang terkumpul pada region bagian bawah jaringan superglanural  dari pergerakan transmisi. (NASA/TRACE)

SOLAR 016

Gambar pusaran tipis terlihat melengkung di atas region aktif dari matahari pada 1 Januari 200. (Courtesy Dick Shine, NASA/TRACE)

SOLAR 017

Gambar LASCO C2 ini yang diambil pada 8 januari 2002, menunjukan coronal mass ejection (CME) yang tersebar luas pada saat meletus lebih dari 1 milyar ton material terlepas ke ruang angkasa dengan kecepatan jutaan kilometer per jam. Gambar C2 diputar 90 derajat sehingga ledakan nampak seperti menuju ke bawah. (Courtesy of  SOHO/LASCO consortium)

SOLAR 018

Close up detail dari struktur magnetik pada permukaan matahari, terlihat dari
H-alpha wavelength pada 22 agustus 2003. (Swedish 1-m Solar Telescope (SST) dioperasikan oleh the Royal Swedish Academy of Sciences, Oddbjorn Engvold, Jun Elin Wiik, Luc Rouppe van der Voort, Oslo)

SOLAR 019

Pesawat Ruang Angkasa Nasa STEREO mengamati letupan matahari yeng menakjubkan ini pada 29 september 2005 pada 304 wavelength of extreme UV light. Letupan ini muncul dan menghilang selama beberapa jam, nampak seperti bendera terbentang, pada saat terpecah ke ruang angkasa.

Material yang diamati ini sebenarnya helium yang terionisasi pada suhu sekitar 60.000 derajat. Letupan merupakan kumpulan gas yang relatif lebih dingin yang tertahan di atas permukaan matahari dan dikontrol oleh medan magnetik. (NASA/STEREO)

SOLAR 020

Transit dari Bulan melintasi permukaan matahari pada 25 februari 2007 – namun tidak terlihat dari bumi. Pemandangan ini hanya terlihat dari STEREO-B spacecraft di orbit nya di matahari, bergerak di bagian belakang bumi.

Misi STEREO NASA terdiri dari 2 pesawat ruang angkasa yang diluncurkan pada Oktober 2006 untuk mempelajari badai matahari (solar storm). STEREO-B sekarang berada sekitar 1 juta mil dari bumi, 4,4 kali lebih jauh dari bulan daripada kita di bumi. Sebagai hasilnya bulan nampak 4,4 kali lebih kecil dari yang biasa kita lihat. (NASA/STEREO)

SOLAR 021

Pada 30 September 2001 TRACE mengamati flare M1.0 di region aktif sangat dekat dengan bagian sayap matahari. Fragmen dari prominence bergerak di atas region, dengan material filamen gelap (yang relatif lebih dingin) bergerak mengikuti di bagian garis permukaan, yang kemudian berpisah untuk membentuk outline terang berbentuk naga ini. (NASA/TRACE)

Fenomena terbakarnya manusia secara tiba – tiba 29 April 2010

Posted by irpha in Berita Umum, Uncategorized.
add a comment

Salah satu fenomena paling aneh di dunia adalah Spontaneous Human Combustion (biasa disingkat SHC). Apa itu SHC? SHC yg secara harfiah bisa diartikan “terbakarnya manusia secara tiba-tiba” merupakan peristiwa di mana tubuh seseorang tiba-tiba terbakar sementara di sekitarnya tidak ada sesuatu semisal api atau sebangsanya yang memicu kebakaran.

Yang lebih janggal, seringkali tubuh korban bisa hangus hingga begitu parah, tapi benda-benda di sekitarnya yang letaknya bahkan begitu dekat tidak mengalami kerusakan seolah-olah tidak tersentuh api sama sekali. Fenomena SHC menurut catatan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, entah di tengah keramaian ataupun saat korbannya sedang sendiri.

Studi mengenai SHC pertama kali dianggap dipublikasikan oleh Jonas Dupont pada tahun 1763 dalam buku berjudul “De Incendiis Corporis Humani Spontaneis” yang isinya mengenai kumpulan kasus SHC di masa itu.
Para ilmuwan lainnya kemudian mulai melakukan kajian secara serius mengenai SHC & mengumpulkan berbagai macam kasus SHC yang pernah terjadi untuk diteliti lebih lanjut serta dicari penyebabnya.
Cukup mengejutkan karena ternyata fenomena SHC yangg pernah terjadi relatif banyak dan itu belum termasuk kasus-kasus SHC yang tidak diketahui publik maupun yang terjadi di luar jangkauan mereka (pengumpulan data mereka umumnya sebatas di wilayah barat, terutama AS)

Berikut adalah sebagian kecil dari daftar fenomena SHC yang diketahui yang kebanyakan berlokasi di Barat karena dari sanalah mereka berasal :

Tahun 1731

Seorang wanita yg diketahui sebagai Countess Cornelia di Bandi dari Cesena, Italia, ditemukan meninggal karena terbakar di lantai kamar tidurnya. Hanya kakinya yang masih memakai stocking dan sebagian kepalanya yang tersisa.

Kasus itu dianggap membingungkan karena normalnya, dalam kasus kebakaran rumah, anggota tubuh terbakar lebih dulu barulah batang tubuhnya ikut terkena api, namun dalam kasus ini justru tubuh korban hangus hingga menjadi abu namun kaki dan kepalanya masih tersisa.

Tanggal 27 Agustus 1938

Phyllis Newcombe dan pria tunangannya Madge Knight baru saja meninggalkan pesta dansa pada tengah malam di Chelmsford. Tiba-tiba gaun yg dipakai Phyllis – yang terbuat dari bahan crinoline – menyala hebat dan ia terpaksa diangkut ke rumah sakit setelah sempat berhasil menanggalkan gaunnya.

Sayang, ia meninggal beberapa jam kemudian. Dugaan awal, peristiwa itu disebabkanoleh puntung rokok, namun nyatanya gaun dari bahan yg sama tidak terbakar sama sekali sekalipun disundut dengan puntung rokok yg menyala. Keanehan lainnya, api seharusnya tidak menyala sebesar itu kecuali ada bensin atau minyak yg disiramkan pada saat itu.

Akhir tahun 1950-an di London

Seorang wanita sedang berdansa dengan pasangannya di diskotik. Tiba-tiba tubuh wanita tersebut diselimuti api dan ia meninggal sebelum api berhasil dipadamkan. Penyebab terbakarnya wanita itu masih misteri karena berdasarkan penuturan para saksi, tidak ada yang merokok dalam diskotik pada waktu itu dan tidak ada benda-benda mengandung api semisal lilin di atas meja.

Oktober 1963

Olga Woth meninggal karena terbakar hidup-hidup di dalam mobil. Tidak ada bau benda mudah terbakar seperti minyak yang tercium dan mobilnya sendiri sama sekali tidak terbakar.

Tanggal 19 November 1963 di Sussex

Madge Knight meninggal akibat terbakar ketika sedang tidur sendirian di kamarnya. Hal yg membingungkan, tidak tercium bahan-bahan mudah terbakar di lokasi & alas ranjangnya sama sekali tidak terbakar.

Bulan Desember 1966

Dr. John Irving Bentley ditemukan terbakar di dalam kamar mandi. Hanya kakinya yang tersisa, sementara barang-barang di kamar mandinya banyak yang tidak tersentuh api. Ini adalah salah satu kasus SHC yang paling terkenal.

Tahun 1980 di Chesire, Inggris

Susan Motteshead yang sedang memasak di dapur dan memakai piyama tahan api. Tiba-tiba muncul kobaran api beberapa detik dari punggungnya, namun tubuh dan rambutnya tidak terbakar sama sekali. Saat piyama yang dipakainya itu dicoba untuk dibakar oleh petugas pemadam kebakaran yang kemudian datang, piyama itu juga tidak bisa terbakar. Susan sendiri selamat dan tidak terluka sama sekali.
(Kasus ini bukan soal SHC, namun masih berhubungan soal fenomena “api yg misterius’) Dalam buku “Phenomena” yang ditulis Jonny Michell & Robert Rickard, diceritakan bahwa di akhir abad ke-19 ada seorang wanita bernama Jennie Morgan dari Missouri yang memiliki kemampuan khusus. Percikan bunga api muncul dari wanita itu ke barang-barang di sekitarnya. Ia juga diketahui bisa membuat orang lain pingsan ketika berjabat tangan dengannya.

Ada beberapa hipotesis mengenai penyebab SHC. Salah satu hipotesis yang paling populer adalah yang dikenal sebagai “Efek Sumbu” (wick effect). Inti dari hipotesis itu adalah bahwa korban tiba-tiba tak sadarkan diri entah karena serangan jantung atau terlalu banyak minum alkohol.

Sumber api di dekatnya, misalnya dari rokok, lalu mulai membakar tubuh korbannya dengan memakai lemak dan alkohol sebagai bahan bakarnya. Teori ini sendiri memiliki kelemahan seperti fakta bahwa banyak korban sedang melakukan aktivitas secara aktif saat SHC terjadi dan fakta bahwa sumber api kecil semisal rokok nyatanya sulit membakar tubuh manusia karena kalaupun kulit korbannya berhasil terbakar, sumber apinya sendiri sudah padam. Apalagi dengan teori ini, api akan menjalar pelan-pelan, sementara dalam kasus SHC api muncul secara mendadak dan seketika.

Hipotesis lainnya adalah mengenai fenomena bahwa korban meninggal akibat adanya “penyimpangan” medan magentik bumi. Hipotesis itu menyatakan bahwa beberapa manusia memiliki kemampuan untuk “mengumpulkan” gelombang magnetik sehingga tubuhnya tiba-tiba terbakar ketika gelombang yang terkumpul cukup tinggi untuk membentuk api – yang juga merupakan salah satu bentuk gelombang.

Ibaratnya kurang lebih seperti kaca pembesar yang mengumpulkan cahaya dan perlahan mulai membakar benda di titik fokusnya. Hal ini didukung oleh fakta bahwa terjadi kenaikan intensitas medan magnet pada beberapa fenomena SHC (lihat diagram). Namun, gagasan mengenai manusia yg bisa memfokuskan gelombang magnetis sendiri masih dipertanyakan.

Masih ada hipotesis lain seperti mengaitkan fenomena SHC dengan kondisi kejiwaan seseorang. Dikatakan bahwa saat seseorang mengalami guncangan jiwa, oksigen dan hidrogen dalam tubuhnya akan mengalami reaksi berantai yang lebih lanjut menyebabkan ledakan dari dalam sel.

Sebagian orang bahkan percaya bahwa SHC adalah fenomena supranatural yang berasal dari “sesuatu yang tidak terlihat dan tidak bisa dirasakan manusia”.

Satu hal yang pasti, sekalipun ada banyak hipotesis mengenai sebab fenomena SHC, belum ada penjelasan yang bisa menjelaskan fenomena SHC secara gamblang.

membuat hiren boot di flash disk 2 Maret 2010

Posted by irpha in Uncategorized.
8 comments

Hiren’s versi 9.7 dan versi 9.8 secara struktur telah mengalami penyempurnaan dari versi 9.6 dan sebelumnya. Sepertinya programmer Hiren telah bekerja keras untuk menata kembali program-program dalam Boot CD ke dalam kategorisasi yang lebih teratur. Ini terbukti dari akses menu yang lebih mudah dan terstruktur. Dalam versi terbaru ini juga ada update beberapa program yang dalam versi terdahulu sempat terdeteksi sebagai virus oleh beberapa program antivirus. Bagi yang punya antivirus galak seperti Avira, tentu hal ini sangat menjengkelkan. Beberapa pembenahan bug dan update program juga membuat rilis program terakhir ini menjadi lebih menarik. Bahkan sekarang Hiren’s dilengkapi Sistem Operasi Windows XP sehingga bisa langsung booting ke GUI Windows tanpa harus repot-repot dengan instalasi. Nah, kali ini kita akan membuat USB Flashdisk Hiren’s dengan segenap fasilitas di atas agar lebih kompak dan fleksibel.. PENGANTAR Untuk membuat sendiri Hiren Boot USB Flashdisk versi 9.7 dan 9.8 perlu ada program yang berbeda dari program yang digunakan dari versi sebelumnya. Meski berbeda, namun secara keseluruhan, caranya tidak serumit versi sebelumnya. Anda dapat melihat perbedaannya dengan menyimak cara Membuat Hiren’s Boot CD dari Flashdisk 9.6 ke bawah yang saya ulas sebelumnya. Anda tidak perlu lagi membuat salinan Sistem Operasi MSDOS dan menambahkannya ke Flashdisk. Cukup Anda download tool yang diperlukan, ikuti langkah demi langkah instalasi. Tidak percaya? Silakan simak caranya berikut ini dan buktikan sendiri 🙂 PERSIAPAN Untuk memulai praktek kali ini, Anda perlu mempersiapkan hardware dan program berikut:ini: 1. Komputer dengan sistem operasi windows yang sehat dan Flashdisk USB dengan ukuran minimal 256MB. Saya sarankan Anda memilih flashdisk dengan ukuran maksimal 4GB untuk mengurangi kemungkinan trouble saat melakukan booting. 2. USB Disk Storage Format (34KB). Formatter ini memiliki fungsi yang sama dengan HPUSBFW.EXE yang saya sampaikan dalam posting sebelumya. 3. Grub4DOS (147KB). Program ini digunakan untuk menginstall Bootloader untuk flashdisk Anda. Program inilah yang menggantikan fungsi file sistem MSDOS pada versi sebelumnya. Di dalamnya juga ada dua file yang nantinya harus Anda salin ke dalam USB Flashdisk Anda. 4. Hirens Boot CD versi 9.7 atau versi 9.8. Buka tulisan tersebut. Temukan link download Hiren’s Boot CD di bagian bawah artikel untuk mendapatkan File ISO Hiren’s. Setelah selesai Anda bisa langsung mem-burning ke dalam CD atau langsung Anda Insert ke dalam Drive Virtual dengan menggunakan program semacam Virtual CD, Virtual Drive, atau DaemonTools hanya untuk memenuhi kebutuhan pembuatan Hiren’s Boot USB ini. LANGKAH INSTALASI 1. Tancapkan flashdisk USB Anda, ekstrak dan jalankan USB Disk Storage Format. Pilih flashdisk USB Anda di bagian ‘Devices’. Pilih File System ‘FAT32‘, akhiri dengan meng klik ‘Start‘. hirens-boot-usb-flashdisk1 2. Akan muncul menu konfirmasi berikut ini, pilih Yes. Tunggu beberapa saat hingga proses format selesai, Klik ‘OK‘. hirens-boot-usb-flashdisk2 3. Ekstrak file grub4dos_guntingbatukertas.zip hasil download Anda. Dobel klik grubinst_gui.exe untuk menjalankan program Grub4Dos Installer 1.1 seperti tampilan di bawah ini. Pilih Disk Anda, pastikan Anda memilih flashdisk dengan benar. Perhatikan pada ukuran space nya. Klik pada tombol Refresh Part List, kemudian pilih Whole Disk(MBR). Mulai proses pemasangan Bootloader pada flashdisk dengan mengklik Install. Tunggu beberapa saat Hingga selesai. hirens-boot-usb-flashdisk4 4. Copy file grldr dan menu.lst dari folder grub4dos ke Flashdisk USB Anda. File ini merupakan kombinasi Bootloader untuk mengarahkan proses booting ke flashdisk. hirens-boot-usb-flashdisk6 5. Masukkan BootCD (9.7 atau 9.8) ke Drive CD dan copy semua file yang ada di dalamnya ke dalam Flashdisk. Sekarang, coba jalankan flashdisk Anda untuk melakukan booting dari awal. PERIKSA SETTING PC ANDA * Agar dapat booting dengan baik dengan Flashdisk USB astikan PC Anda mendukung booting melalui Flashdisk. Masuk pada BIOS dengan menekan tombol ‘Del‘ pada keyboard atau tombol lain sesuai BIOS Anda. Kemungkinan alternatifnya adalah ‘F1‘, ‘F2‘, ‘Insert‘ dan ‘F10‘. Mungkin beberapa motherboard lain mengharuskan untuk menekan tombol lain untuk dapat masuk ke BIOS. Perhatikan pesan saat booting seperti ini ‘Press [Del] to enter Setup‘ yang mengindikasikan bahwa Anda harus menekan ‘Del’ untuk dapat masuk ke BIOS. * Cek BIOS Anda. Jika Anda memakai BIOS keluaran AMI, mungkin Anda perlu mengubah setting pada pilihan ‘USB Keyboard Legacy support‘. * Setting BIOS: Untuk AMI BIOS: – Masuk ke Feature Setup, Set ke posisi ‘Enable‘ beberapa fungsi berikut: ‘USB Function Support‘, ‘USB Function For DOS‘ dan ‘ThumbDrive for DOS‘. Masuk ke bagian Advanced Setup, set ‘1st Boot Device‘ ke ‘USB RMD-FDD‘. Reboot PC Anda, dan seharusnya Anda sudah bisa booting melalui Flashdisk USB.- Masuk ke bagian USB Mass Storage Device Configuration. Pilih ‘Emulation Type‘ dan set ke ‘Harddisk‘. Kemudian masuk ke ‘Boot Menu‘ dan set ‘1st boot device‘ ke ‘USB Stick‘. Exit dari BIOS untuk menyimpan perubahan. Jika tetap tidak bisa, Anda bisa coba pilihan ‘Emulation Type‘ ke ‘Floppy‘ atau ‘Forced FDD‘ Untuk Phoenix/Award BIOS: Masuk ke ‘Advanced BIOS Features‘. Pilih ‘1st Boot device‘ dan set pada ‘USB ZIP‘. * Jika semua setting di atas masih belum membuat USB Hiren Anda berjalan normal atau keluar GRLDR, silakan coba download dan gunakan Syslinux untuk menggantikan fungsi grub4dos. DOWNLOAD LINK Berikut ini daftar download link Hiren’s Boot CD: * Hiren’s Boot CD v.9.7 * Hiren’s Boot CD v.9.8 * Hiren’s Boot CD v.9.9 * Hiren’s Boot CD v.10 Semoga berhasil! Baca selengkapnya di: http://guntingbatukertas.com/tools/membuat-hirens-boot-usb-flashdisk-untuk-versi-97-dan-98/#ixzz0h0hWTwEY Under Creative Commons License: Attribution No Derivatives

PHOTO 16 Februari 2010

Posted by irpha in Uncategorized.
add a comment

Text-effects:

master adv photoshop tut17 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut15 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut18 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut14 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut24 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut25a 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut26a 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut27a 60 tutorial photoshop keren banget

Movie techniques:

master adv photoshop tut12 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut11 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut13 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut66 60 tutorial photoshop keren banget

Vector effects:

master adv photoshop tut10 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut9 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut8 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut7 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut19 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut20 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut40 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut62 60 tutorial photoshop keren banget

Photo Retouching:

master adv photoshop tut28 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut29 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut3 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut30 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut39 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut57 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut58 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut65 60 tutorial photoshop keren banget

Photo Manipulation:

master adv photoshop tut1 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut23 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut2 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut21 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut6 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut31 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut35 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut38 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut42 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut44 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut46 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut56 60 tutorial photoshop keren banget

Web Buttons / Interface Elements:

master adv photoshop tut4 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut16 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut36 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut37 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut41 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut60 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut55 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut61 60 tutorial photoshop keren banget

Digital Coloring:

master adv photoshop tut34 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut33 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut32 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut63 60 tutorial photoshop keren banget

Digital Painting:

master adv photoshop tut22 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut43 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut45 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut47 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut48 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut49 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut50 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut51 60 tutorial photoshop keren banget

master adv photoshop tut52 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut53 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut59 60 tutorial photoshop keren banget master adv photoshop tut64 60 tutorial photoshop keren banget

image processing pada matlab aplikasi dalam bidang citra sem 29 Desember 2009

Posted by irpha in Uncategorized.
2 comments

Ada 4 tahap pada image processing menggunakan matlab :

1. step 1: membaca gambar/image

I = imread(‘nanotube.jpg’);

figure, imshow(I), title(‘image asli’);

2. step 2: menemukan struktur kecil

Untuk menemukan semua struktur yang kecil, kita mengambil komplemen dari gambar dengan fungsi imcomplement, sehingga nilai-nilai piksel struktur lebih tinggi daripada latar belakang. Kami kemudian ambang gambar yang dihasilkan dengan fungsi im2bw pada tingkat yang ditentukan oleh fungsi graythresh.

Ic = imcomplement(I);

figure, imshow(Ic), title(‘citra komplemen’);

BW = im2bw(Ic, graythresh(Ic));

figure, imshow(BW), title(‘thresholding the image to show small structures’);

3. step 3: meng-ekstrak objek besar

Kami mengambil objek besar dari gambar dengan menggunakan thresholded morfologi operasi menutup dan membuka berturut-turut. Proses ini biasanya digunakan untuk kehalusan, pengisian, dan / atau menghapus objek dalam suatu gambar grayscale atau biner. Morfologi penutupan setara dengan pelebaran diikuti oleh pengikisan dengan elemen penataan. Demikian pula, morfologi membuka ekuivalen dengan pengikisan diikuti oleh pelebaran. Pilihan dari elemen struktur tergantung pada ukuran dan bentuk objek yang akan dimodifikasi. Dalam kasus kami, kami menciptakan sebuah struktur berbentuk cakram elemen dengan radius enam piksel menggunakan fungsi strel.{membuat struktur elemen}

se = strel(‘disk’, 6);

BWc = imclose(BW, se);

BWco = imopen(BWc, se);

figure, imshow(BWc), title(‘closing the thresholded image’);

figure, imshow(BWco);

title(‘opening the image to show large objects’);

4. step 4: mengekstrak stuktur kecil

Kami telah menciptakan sebuah gambar yang berisi semua struktur yang kecil dan sebuah gambar yang berisi benda-benda besar. Untuk mengekstrak semua struktur kecil di dalam benda yang besar, kita mengambil persimpangan atau “dan” dari dua gambar dengan menggunakan & operator.

mask = BW & BWco;

figure, imshow(mask), title(‘the “and” of these two images’);

dapus :

Credit The pearlite.tif image is courtesy of J. C. Russ, The Image Processing Handbook, Third Edition, 1998, CRC Press.

Listing penuh :

I = imread(‘nanotube.jpg’);

figure, imshow(I), title(‘image asli’);

Ic = imcomplement(I);

figure, imshow(Ic), title(‘citra komplemen’);

BW = im2bw(Ic, graythresh(Ic));

figure, imshow(BW), title(‘thresholding the image to show small structures’);

se = strel(‘disk’, 6);

BWc = imclose(BW, se);

BWco = imopen(BWc, se);

figure, imshow(BWc), title(‘closing the thresholded image’);

figure, imshow(BWco);

title(‘opening the image to show large objects’);

mask = BW & BWco;

figure, imshow(mask), title(‘the “and” of these two images’);